Please login or signup to add a comment to this paragraph.


Add comment   Close
Fairuza Dorago Fairuza Dorago
Recommendations: 0

Trex and Drago Adventure


Share this writing


Link to this writing



Start Writing

More Poetry

Deborah Boydston Deborah Boydston
Recommendations: 45
Murder in the Senseless
Leoni Carlson Leoni Carlson
Recommendations: 12
Expressivity
Aaron Greene Aaron Greene
Recommendations: 30
Author's Clog
Leonard a. Wronke Leonard a. Wronke
Recommendations: 23
JUST BECAUSE
Kitchera Hicks Kitchera Hicks
Recommendations: 11
soul mates

BAB 1
PERMULAAN
Di sebuah pulau terpencil di Jepang, pulau yang belum pernah dijarah oleh manusia.  Pulau itu sangat unik karena penghuninya adalah Bakugan.  Bakugan itu jumlahnya ada ribuan, ada spesies yang sudah dikenal tapi ada juga jenis baru.  Pulau itu memang sangat tenang dan damai.
Meski demikian, Bakugan-Bakugan itu tetap bekerja keras.  Bisa dimengerti kalau Bakugan-Bakugan itu menyediakan makanan dan bekerja keras untuk musuh mereka yang sangat ditakuti, yakni….. bakugan Mekanik.
“Kenapa kita harus melakukan ini semua, Dragaon?” Tanya Munikis.  “Memang harus begitu,” jawab Dragaon pendek.  “Tapi makanan yang kita sediakan untuk mereka hanya akan sia-sia,” gerutu Munikis si Darkus Destroy Munikis.  “Apa maksudmu kalau itu sia-sia?” Tanya Dragaon si Pyrus Flare Dragaon.  “Kamu tahu sendiri kan, kalau mereka yang berkuasa di sini.”  “Maksudku, mereka hanya makan separuhnya saja, Sebagian besar terbuang.  Lagipula mereka cuma Bakugan penjajah,” gerutu Munikis.  “Berhentilah mengeluh! Sudah begitu kebiasaan Bakugan Mekanik.  Kita menyediakan makanan untuk mereka, mereka mengerumuni makanan itu, mereka cacah dan mereka pergi lagi dengan meninggalkan makanan berjatuhan ke tanah,” kata Dragaon.
Ketika semua Bakugan itu tengah menyiapkan makanan, terdengar suara langkah kaki yang mengejutkan semua Bakugan itu.  Merekalah Bakugan Mekanik itu, dengan dipimpin oleh John Stanford, seekor Pyrus Farbros.  John adalah ayah dari musuh bebuyutan Trex kelak, Farbros.
Ketika John melangkah, para Bakugan itu berhenti.  Semua Bakugan itu amat ketakutan melihat tatapan John yang mengerikan.  Dengan kasar, dia menyentakkan kakinya ke arah seekor Aquos Strom Skyress.  “Dasar Lamban!  Menyediakan makanan untuk kami saja tidak becus!” bentak John.  
“Kumohon, John!  Jangan sakiti siapapun di sini!” pinta Van Valco.  “Diam! Kalian harus tahu!  Aku adalah pemimpin kalian!  Sungguh kejam kan, kalau pemimpin hebat sepertiku dibiarkan mati kelaparan?” ujar John.  “Justru kita yang kelaparan, bukan dia,” bisik seekor Ventus Orbit Helios kepada Aquos Delta Dragonoid.  John memelototi seekor Bakugan yang tengah berbisik-bisik itu.  Ventus Orbit Helios yang tadinya mengomentari kelakuan John itupun tidak berani berkata apa-apa lagi.
Harus kalian ketahui, John memang sok kuasa.  Dia sudah sering menjajah Bakugan-Bakugan yang ada di pulau itu.  Bakugan-bakugan itu dipaksa kerja oleh John dan gengnya.  Mereka semua disuruh melakukan kerja paksa, menyediakan makanan, tanam paksa dan lain sebagainya.  Bakugan mekanik yang diuntungkan, tetapi bakugan makhluk hidup yang kelaparan.  Sungguh perlakuan yang tidak adil.
“Bakugan Makhluk hidup seperti kalian memang diciptakan untuk melayani Bakugan mekanik.  Bakugan Makhluk hidup mengambil ikan dan sumber pangan lain untuk diberikan kepada Bakugan Mekanik, Bakugan mekanik yang memakan makanan itu….,” jelas John.  “Dan Mechtogan yang memangsa Bakugan Mekanik!  Persis sekali dengan seekor Camolandus yang nyaris menginjakmu.  Waktu itu, dia berteriak ketakutan dan aku langsung lari,” ujar Farbio, saudara kembarnya John.
John marah sekali dengan perkataan Farbio.  Dengan kesal, dia menarik ekor Farbi.  Farbi lebih muda daripada John, karena itu dia yang paling patuh di antara Bakugan Mekanik lainnya.  “Dengar ya, saudaraku yang bodoh.  Kalau aku tidak berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan melukai dirimu, aku pasti akan benar-benar melukai dirimu kalau kau tidak jaga bicaramu,” geram John.  “Jangan marah, John.  Aku berusaha menyembunyikannya, tapi aku tidak tahan kalau cuma diam saja,” timpal Farbio.  “Diam! Sekali lagi kau bicara, aku akan benar-benar menghajarmu!” ancam John.  “Sabarlah! Ingat janjimu!” teriak Farbio mengingatkan.  John menahan keinginannya untuk menghajar saudara kembarnya itu.
“Dengar, aku tidak ingin ada yang terlambat untuk mengerjakan semua perintahku.  Juga tidak boleh ada yang menentangku.  Kalian mengerti? Ayo, kita pergi!” seru John untuk memerintahkan Bakugan mekanik lainnya pergi meninggalkan Bakugan yang ada di situ.
BAB 2
RAPAT KHUSUS
Malam harinya, keenam Bakugan yang mewakili Bakugan Makhluk hidup itu nampak sedang melakukan Rapat Khusus.  Rapat itu membicarakan tentang cara untuk mengusir John dan kelompoknya.
“Betul, kan kataku?  Mereka pemeras, serakah dan rakus!  Mereka harus benar-benar disingkirkan!” adu Munikis.  “Tapi bagaimana caranya?” Tanya Van Valco.  “Kita tidak akan mungkin bisa mengalahkan John dan kelompoknya.”  “Pendapat Van Valco benar.  Kita tidak akan mungkin bisa mengusir semua Bakugan mekanik itu,” kata Aquas.  “Tapi bagaimanapun caranya, kita harus bisa mencari cara agar bisa merdeka dari Bakugan mekanik,” timpal Leonass.  “Mungkin kita bisa meminta seseorang untuk membantu kita,” usul Gran Panzer.  “Tapi bagaimana mungkin? Tidak ada orang yang mau menolong kita,” sanggah  Aquas.
Dragaon sempat mendengar pendapat Gran Panzer.  Menurutnya, itu ide yang bagus.  “Teman-teman, mungkin tidak ada salahnya bila kita mencoba pendapat dari Gran Panzer,” ujar Dragaon.  Teman-teman Dragaon saling berpandangan heran.  Mereka tidak mengerti kenapa Dragaon berpendapat demikian.  “Tapi, Dragaon…., tidak ada yang mau menolong Bakugan seperti kita,” timpal Leonass.  “Iya, memang benar.  Kalau manusia, mereka lebih sering menggantungkan diri kita sebagai mainan,” tambah Aquas.  “Dengar, seorang penyelamat bisa datang sewaktu-waktu.  Kalau memang akan ada penyelamat yang pertama kali menginjakkan kakinya di pulau ini, dia pasti bisa menyelamatkan kita dari bencana ini,” kata Dragaon.
“Ya, semoga saja ada penyelamat kita yang akan menyelamatkan kita dari penjajah itu,” kata Munikis.  Mereka memutuskan untuk menunggu sang penyelamat tiba, entah apakah akan benar-benar datang atau tidak.
BAB 3
SANG PENYELAMAT
Dragaon dan teman-temannya sudah berharap dan menunggu kehadiran sang penyelamat.  Mereka menunggu selama berhari-hari, namun tidak ada seorangpun yang datang.  Dragaon merasa agak kecewa dengan harapannya.
“Apa kau yakin penyelamat akan datang?” Tanya Munikis.  “Sebenarnya…., aku nyaris putus asa, tapi siapatahu penyelamat akan datang,” jawab Dragaon.   “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan.  Pasti akan ada orang yang akan menolong kita.  Percayalah!” hibur Munikis.  “Ya, semoga saja,” kata Dragaon.  Keduanya merasa yakin bahwa penyelamat akan benar-benar datang.
Tidak jauh dari situ, ada sebuah kapal yang ditumpangi oleh dua sahabat yang selalu bermimpi menjadi jagoan, Trex dan Drago.  Mereka sedang berencana untuk berlibur.   Drago adalah seekor Pyrus Delta Dragonoid dan Trex adalah partnernya.  Mereka memang tim yang hebat, tapi apakah Bakugan yang ada di pulau itu akan menerima mereka?
“Ah, aku tidak menyangka kalau kita bisa berlibur juga,” kata Drago.  “Ya, dan kau tahu kan kalau sahabatmu ini memang banyak akal?” Tanya Trex.  “Hmmm, memang pada kenyataannya seperti itu,” jawab Drago. “Memang benar, sih kalau aku banyak akal.  Tapi orang lain selalu saja menyebutku anak nakal dan suka membuat masalah.  Menurutku, itu hal yang menyebalkan,” gerutu Trex.  “Aku tahu! Aku tahu!  Kita berlibur agar tidak diganggu oleh teman-temanmu yang menjengkelkan itu,kan?  Untuk orang seperti dirimu, mereka memang terkadang menjengkelkan,” ujar Drago.
“Sudahlah, Drago.  Cobalah bayangkan petualangan yang bisa kita ditemui di pulau itu,” bujuk Trex.  Dia menunjuk sebuah pulau terpencil yang berada di Jepang.  Mereka sudah hampir mendekati pulau itu.  Mereka berdua tidak sabar menanti petualangan yang akan mereka temui di pulau yang ditunjuk oleh Trex.  Mereka belum tahu kalau pulau yang mereka lihat adalah tempat tinggal Flare Dragaon dan Bakugan lainnya yang tinggal di Jepang.
Ketika mereka berdua sampai di pulau itu, mereka segera turun dari kapal dan menurunkan barang bawaan mereka.  Mereka sangat senang kalau mereka bisa menemukan petualangan baru.
“Drago, pasti asyik kalau kita bisa menemukan petualangan baru yang cukup menegangkan untuk kita berdua!” seru Trex.  “Haha, pasti karena kau ingin pamer kekuatan,” ujar Drago.  “Ayolah, Drago.  Kita berdua ini sudah dijuluki “Future Rider”.  Kita berdua sama-sama penggemar Kamen Rider Dragon Knight,” kata Trex.
Ketika Trex dan Drago asyik mengobrol, mereka tidak sadar kalau ada yang mendengar percakapan mereka.  “Hei, Dragaon!  Aku mendengar suara orang lain, sepertinya datang dari sana,” bisik Munikis.  “Apakah ada orang lain di sekitar sini?” Tanya Dragaon.  Mereka berdua berjalan mengendap-ngendap di antara semak-semak.  Mereka melihat Trex dan Drago yang memperlihatkan gaya mereka sebagai jagoan.
“Hei, Drago!  Apakah kau bisa membayangkan kalau seandainya kita adalah Kamen Rider? Kita berdua bisa menjadi pahlawan!  Kalau bertemu penjahat, aku akan menendangnya dan memukulnya seperti ini,” kata Trex sambil melakukan gerakan untuk menyerang musuh.  “Kalau aku sih, tidak terlalu memaksakan diri untuk menjadi Kamen Rider.  Tapi aku juga ingin mengalahkan penjahat seperti yang dilakukan para Rider, seperti Kamen Rider Axe.  Aku pernah lihat cara dia menaklukkan monster,” kata Drago sambil meniru gaya Kamen Rider Axe.
Flare Dragaon dan Destroy Munikis terkagum-kagum melihat gaya Trex dan Drago.  “Itu dia, Munikis!  Merekalah yang kita cari!” seru Dragaon.  “Maksudmu, apakah mereka bisa menolong kita?” Tanya Munikis.  “Kamu tidak tahu? Merekalah penyelamat kita, mereka yang akan menolong kita.  Merekalah yang akan mengusir Bakugan Mekanik!” jawab Dragaon bersemangat.  “Kalau begitu, kita bisa meminta mereka untuk mengalahkan Bakugan mekanik,” ajak Munikis.
Flare Dragaon dan Destroy munikis keluar dari tempat persembunyian mereka dan menghampiri Trex dan Drago.  “Ehm, kalian pasti datang dari jauh, kan?” Tanya Dragaon.  “Siapa yang bertanya?” Tanya Trex.  “Munurutku, dia kelihatannya agak bodoh,ya?” bisik Munikis.  “Aku dengar itu!  Jangan sembarangan mengataiku,ya?  Aku bisa menjadi sangat berbahaya untuk kalian,” kata Trex sambil berbalik dan menunjuk Flare Dragaon dan Destroy Munikis.
“Ow, dia


Link to this writing

Share this writing


Next: Blood Feud: Forbidden Love book 1 chapter 2 (revised)